Sang Pengagum

Sumber: www.bangtohir.com

Seringkali Hanna melihat lelaki itu di stadion yang biasa ia gunakan untuk olahraga. Lelaki yang ia sukai dalam diamnya. Sebut saja namanya adalah Rian. Hanna suka pada pandangan pertama di stadion. Penampilan fisik yang sempurna membuat  banyak wanita yang mencoba mendekatinya. Tak terkecuali Hanna pengagum rahasianya.
Minggu pagi, Hanna memutuskan untuk olahraga pagi bersama teman-temannya. Kegiatan rutin yang ia lakukan bersama teman-temannya. Hari ini, lelaki itu nampak kembali berolahraga bersama teman-temannya. Sontak hati Hanna berdegub kencang ketika segerombalan lelaki itu melewati Hanna. Ia hanya bisa melirik lelaki itu. Hatinya ingin menyapa. Namun, mulutnya membisu. Lagi-lagi ia hanya bisa menyimpan perasaanya dalam diam.
Waktu berlalu, Hanna mencoba untuk melupakan sosok lelaki itu dalam hati dan fikirannya. Hanna tak ingin membiarkan lelaki yang tak dikenali terus bersemayam dalam hatinya. Namun sepertinya takdir berkata lain.Tempat yang sama, yaitu di stadion. Hanna dipertemukan kembali dengan lelaki itu di acara jalan sehat. Semua warga kecamatan mengikutinya, termasuk Hanna. Sebelumnya, Hanna berharap tak bertemu dengan dia.
“Kak, aku kesana dulu ya, kamu tunggu aja disini sama temen-temen.” Ucap Elisa salah satu teman Hanna
“kamu mau kemana Lis, aku tunggu disini. Ok.” Jawab Hanna
Jarum jam terus berputar. Namun, batang hidung Elisa tak segera muncul
“Han, kemana sih Elisa tadi. Acara sudah mau selesai, pulang aja yuk.” Ajak Nia
“Tunggu bentarlah, mungkin dia lagi ketemuan kali sama cowoknya.” Jawab Sinta
“Kebiasaan tuh Elisa.” Sahut Hanna
Tak lama kemudian, Hanna mendapatkan sebuah pesan singkat dari Elisa. Elisa menyuruh Hanna untuk datang ke tempat Elisa. Segera Hanna pun menuju tempatnya. Dari jauh terlihat Elisa bercanda tawa dengan segerombolan cowok.
“Gila tuh Elisa, dia cewek sendiri.” batin Hanna
“Elisa, ayok pulang. Semuanya udah pada nunggu nih.” Ajak Hanna kepada Elisa
Hanna terkejut. Segerombolan cowok yang bersama Elisa ada lelaki yang ia sukai.
“Kak, nih kenalin temanku namanya Rian, Aldo, fahri, Rudi, dan Syahid.”
“kenalkan saya Hanna.”
“Oh iya kak, ini cowokku yang pengen kukenalin sama kakak. Namanya Fahri.”
“hai Fahri, Elisa ayok.”
Mereka berdua pun akhirnya pulang. Di perjalanan Hanna masih tak habis fikir, jika lelaki yang selama ini ia kagumi salah satu kenalan Elisa.
“Elisa, kamu kok bisa kenal sama mereka?” Tanya Hanna penasaran
“oh iya kak, mereka itu teman pacarku. Jadi aku kenallah sama mereka. Kenapa kak Han, mau aku kenali salah satu dari mereka?”
“eh, apaan sih. Enggaklah. Lagian aku kan gak kenal sama mereka.”
“sebenarnya ada yang naksir loh sama kak Hanna. Namanya Rian. Tadi dia yang pakai baju merah dan topi hitam.”
Pipi Hanna tiba-tiba merah. Orang yang Elisa sebutkan itu tak lain adalah Rian, lelaki yang selama ini ia kagumi.
“ah, masak sih. Aku kan orangnya gak cantik Lis.”
“katanya, Rian sering melihat kak Hanna jogging di stadion kak. Dia pengen kenal kak Hanna lebih jauh lagi. Sebenarnya tadi Rian mau aku kasih nomer kak Hanna. Tapi aku takut kak Hanna marah. Yaudah akhirnya aku suruh kak Hanna buat nyamperin aku. Maaf ya kak. Hehehe”
Mendengar cerita Elisa, hati Hanna menjadi tak karuan. Ia merasa bahagia dan sedih. Ia senang jika setidaknya sukanya tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, Hanna tak terlalu mengenal lelaki itu. Hanna adalah salah satu cewek yang pemalu. Bagi Hanna, Rian adalah sosok yang terlalu sempurna untuknya. Namun, ia mencoba untuk mengendalikan perasaannya.
Malam itu, Elisa mengajak Hanna untuk jalan-jalan. Dengan rayuan Elisa, Hanna pun akhirnya mau menemani Elisa keluar sekedar cari makan.
“Lis, tumben-tumbenan kamu ngajak aku keluar malam. Biasanyakan kamu sama Vivi?”
“bawel ah kak Hanna ini, udahlah kak Han, kakak kan jarang keluar malam, makanya aku ajak nih. Biar tau bagaimana suasana pada malam hari.”
“apaan sih. Norak”
Sebuah cafe remang-remang yang biasanya menjadi tongkrongan anak pemuda yang Elisa pilih. Mereka berdua pun masuk. Nampak dari pintu, dua orang lelaki tengah menunggu kedatangan mereka. Hanna terkejut karena mereka adalah Rian dan Fahri.
“sudah lama ya kalian.” Sahut Elisa
“enggak juga.” Jawab Rian
Hanna bingung. Ia terkejut saat mengetahui bahwa Elisa sudah merencanakan semua ini.
“Hai kak Hanna.” Sapa Fahri
“eh Fahri.”
“Hanna masih ingat aku? Aku temannya Elisa pas di stadion tadi.”
“oh iya, aku masih ingat kok.”
“oh iya kak Han, ini Rian namanya yang aku ceritain tadi siang.”
Hanna pun akhirnya saling memperkenalkan diri kepada Rian. Entahlah, malam itu ia harus senang apa marah.
“gimana kalau habis ini kita jalan-jalan ke double date?” ajak Fahri
“ayok. Ke taman kota yuk. Sekalian nih refreshing dari tugas kerjaan.”
“gimana Hanna, kamu mau gak?” tanya Rian
“emm ... gak papa sih. Asal jangan malam-malam ya pulangnya.”
Mereka berempat pun akhirnya pergi ke taman kota. Lampu-lampu toko dan perumahan menghiasi keindahan malam hari. Ditambah kelap-kelipnya bintang di langit. Malam itu, bukan malam biasa bagi Hanna. Ia harus melanggar aturan yang telah ia buat sendiri. peraturan yang tak membolehkan ia keluar malam diatas jam 9 malam. Keluarga Hanna memang masih memegang aturan sopan santu. Tak baik bagi seorang perempuan keluar malam-malam apalagi di atas jam 9 malam. Perasaan takut sebenarnya menyelimuti Hanna.
Di taman kota itu, Elisa sudah tak memperhatikan Hanna. Ia tengah asyik berdua dengan Fahri. Bercengkerama dan bercandatawa. Hanna memakluminya karena mereka adalah sepasang kekasih. Namun, berbeda dengan Hanna yang bukan siapa-siapanya Rian. Ia hanyalah pengagum rahasianya. Bahkan, untuk berdua pun dengan Rian, Hanna begitu malu. Namun, Rian adalah sosok lelaki yang dewasa. Ia tahu bagaimana cara memperlakukan dan menghormati seorang perempuan. Tak heran jika malam itu, rasa takut yang ada pada hati Hanna tiba-tiba sedikit menghilang. Nampaknya, Rian juga faham dengan Hanna bahwa ia bukan tipe cewek yang suka keluar malam.
Hari semakin larut malam. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. hati Hanna sungguh senang. Ia yang dulu hanya bisa melirik Rian, namun sekarang lebih dari itu. bahkan setiap hari mereka terus chatting. Hanna berharap, semoga kelak ia tak lagi menjadi pengagum rahasia Rian. Namun, menjadi orang yang terkasih. Perempuan yang selalu dilindungi oleh Rian.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERPISAHAN

KELABU