PERPISAHAN
Perpisahan
Hanna menyeka air matanya. Rasa sakit masih menyisa dalam
hatinya. “Lelaki itu hanya berucap dimulut saja. Namun, hatinya mengingkari.”
Pikir Hanna dalam batin.
“Jika dia sungguh menyukaiku, pastinya dia akan mengejar
dan memperdulikanku. Faktanya dia tidak berbuat apa-apa. Hanya bisa berucap
manis tanpa pembuktian selama ini. Oh Allah.” imbuhnya dengan rasa kecewa.
Hanna menghela nafas. otaknya masih memikirkan lelaki itu. Sebut saja namanya Kanze. “Ah, sudahlah mungkin dia tak jauh
beda dengan lelaki lainnya.”
Ia mencoba untuk menghibur hatinya. Setidaknya kejadian
itu membawa hikmah tersendiri baginya. Gadis yang begitu lemah kini sedang
berusaha untuk menjadi kuat. Ia sadar jika balas dendam terbaik adalah menjadi
perempuan yang hebat dan berkualitas.
Pagi itu, kala mentari mulai muncul. Ia mulai menata
hidupnya kembali. hidup yang semula serasa gelap. hati yang dipenuhi kesedihan.
Kini ia tak ingin menyiksa dirinya sendiri. Hanna mengambil air wudhu untuk
segera mengerjakan sholat shubuh. Sejak saat itu, ia berusaha untuk berubah.
Merubah kebiasaan buruknya menjadi hal yang baik. Berusaha menghilangkan
hal-hal negatif yang ada pada dirinya. Dalam pengharapannya, ia ingin suatu
saat menjadi perempuan hebat, kuat, berkelas, berkualitas, dan menakjubkan.
Setidaknya, hal tersebut bisa menjadi penawar hatinya.
“mencintai itu adalah mengikhlaskan dia. Membiarkan dia
pergi atau untuk orang lain bukanlah hal yang buruk. Membiarkan dia pergi, kau
akan tahu seberapa butuhnya ia padamu. Yakin saja, jika dirimu memang sudah
tercipta sebagai sepasang kekasih. Seberapa jauh ia pergi, pasti akan kembali.
Namun, apabila hal itu tak terjadi maka yakinlah bahwa seseorang yang terbaik
akan datang.”
Komentar
Posting Komentar