PERPISAHAN
Perpisahan Hanna menyeka air matanya. Rasa sakit masih menyisa dalam hatinya. “Lelaki itu hanya berucap dimulut saja. Namun, hatinya mengingkari.” Pikir Hanna dalam batin. “Jika dia sungguh menyukaiku, pastinya dia akan mengejar dan memperdulikanku. Faktanya dia tidak berbuat apa-apa. Hanya bisa berucap manis tanpa pembuktian selama ini. Oh Allah.” imbuhnya dengan rasa kecewa. Hanna menghela nafas. otaknya masih memikirkan lelaki itu. Sebut saja namanya Kanze. “Ah, sudahlah mungkin dia tak jauh beda dengan lelaki lainnya.” Ia mencoba untuk menghibur hatinya. Setidaknya kejadian itu membawa hikmah tersendiri baginya. Gadis yang begitu lemah kini sedang berusaha untuk menjadi kuat. Ia sadar jika balas dendam terbaik adalah menjadi perempuan yang hebat dan berkualitas. Pagi itu, kala mentari mulai muncul. Ia mulai menata hidupnya kembali. hidup yang semula serasa gelap. hati yang dipenuhi kesedihan. Kini ia tak ingin menyiksa dirinya sendiri. Hanna mengambil air wudhu unt...